A journey of displacement, turmoil, dedication, passion and the final return to the home of his childhood. Where heritage, culture and circumstance intersect and flow through a lifetime of learning and refinement, “homecoming” not only showcases an artistic journey but begins a narrative of survival, defiance, triumph and ongoing scars from a life less ordinary.
This is the first time that over 50 artworks will make their debut and the full scope of Gede Austana’s style will be revealed.
Lahir tahun 1976, Gede menghabiskan masa kecilnya di Bali yang kala itu masih sarat tradisi. Pada dekade 1980-an ia dibawa pergi ke Australia, yang membuat hidupnya penuh liku dan tantangan yang sulit. Hal itu membentuk kisah tak lazim tentang ketahanan, kegigihan, dedikasi, dan juga kemenangan, hingga akhirnya kembali ke Bali pada tahun 2022.
Sejak 2005, Gede telah berpameran dengan medium tradisional maupun digital. Di acara showcase tunggal ini, untuk pertama kalinya Gede menampilkan keseluruhan karya yang mencapai lebih dari 40 karya yang belum pernah dilihat publik. Setiap karya yang dikurasi merefleksikan babak penting dalam kisah hidupnya—dari ledakan emosi dalam gelap hingga manifestasi harapan, cahaya, asa dan keyakinan.
Gede menapaki lintasan yang jarang terhubung. Ia menjembatani gaya tradisi Bali—sebagai murid aktif gaya Batuan—dengan gaya modern yang berakar pada graffiti, pop art, surealisme, seni komik, dan lainnya.Gaya-gaya lintas generasi ini bersatu dan berpadu dengan palet warna yang saturatif, berani, dan tanpa kompromi. Karyanya berlapis, diisi dengan segala yang telah ia pelajari dan jalani. Ia bergerak dari garis tegas dan sikap liar jalanan menuju sapuan panjang yang puitis, memvisualkan figur-figur muses dan makhluk dunia lain. Sebuah perjalanan tak terduga, yang mengubah energi primal dari rasa sakit menjadi ekspresi keanggunan dan ketenangan mendalam—suatu dualitas hidup yang ditemukan dalam mitologi global, disatukan oleh kondisi manusia yang abadi, dan dihidupkan kembali dalam mitologi baru: sebuah kontemplasi neo-mythic tentang realitas dunia saat ini.
Acara “Kembali Pulang” ini bukan sekadar pameran seni, melainkan percakapan dengan Anda, para tamu kami yang terhormat. Sebuah pertanyaan yang tulus dan dalam—permohonan tulus untuk diterima—dari seorang anak yang telah lama terasingkan, apakah ia bisa menemukan rumah di tanah leluhurnya, sebagai seorang Seniman Bali.
Born in 1976, Gede’s early years were spent in a Bali more traditional than today. Taken away to Australia in the 1980’s his life took many turns with hardships shaping an unconventional story of survival, persistence, dedication and triumph, eventually returning to Bali in 2022.
Exhibiting since 2005 in both traditional and digital mediums, this is Gede Austana’s first solo event, showcasing the full scope of his work to date and containing over 40 never seen before artworks. These curated works represent key aspects of his story which vary from emotional purges of life in darkness to aspirational manifestations of light, hope and faith.
Gede has walked many paths which most would find hard to connect. He bridges the gap between the traditional styles of Bali, an active student of the Batuan Style, and modern styles rooted in graffiti, pop art, surrealism, comic art and more. Cross generational styles united and combined with a saturated colour palette which is bold and unapologetic, his works are layered with everything that he has learnt and lived. He moves from the hard edges and raw attitude of street life to the long flowing lines of visually poetic muses and other-worldly beings. An unexpected arc which brings the primal energy of pain unleashed and redirects it into expressions of profound elegance and serenity. a lived duality found in global mythologies unified by the ancient human condition and brought together in a new mythology. A neo-mythic contemplation on the realities of today's world.
The “Homecoming” showcase event isn’t just an exhibition of art, it is a conversation with you, our special guests. It is the deepest, sincerest question of acceptance from a long displaced boy-turned-artist to find a home in the land of his ancestors, as a Balinese Artist.